
Baru dua hari jalan kaki 5 km, aku sudah ucapkan hamdalllah berkali-kali. Masya Allah, hari-hari ini akan terlewati. Demi menyemangati diri sendiri, aku langsung cari info jarak Shafa-Marwa. Kalau 7 kali sai, total jaraknya 3,15 km. Anggap saja lagi latihan sai hingga undangan Allah untuk perjalanan besar tiba.
Sebelum pergi ke Jogja, Ibu Yayasan yang menerimaku sebagai guru bertanya, “Oh ya kalau transpot, Mbak Sofa punya apa?”
“Tidak ada, Bu. Apakah jarak TPA dengan sekolah jauh? Jalan kaki masih bisa kan, Bu?” balasku cepat.
Dalam bayanganku, aku akan tinggal di kompleks sekolah yang bangunannya berdekatan. Ternyata perkiraanku salah.
“Jarak TPA (daycare tempat menitipkan Kochi) ke SD/SMP lumayan, sekitar 2 km. Bisa naik sepeda po?”
“Bisa, Bu.”
Akhirnya Ibu yayasan berkenan meminjamkan sepeda putri pertamanya kepadaku selama setahun. Selama setahun bersepeda sembari menggendong Kochi ke mana-mana setiap hari. Sebelum subuh sudah bersiap-siap ke sekolah. Jam 5 memandikan Kochi dan setengah enam pergi membeli sarapan.
Warung makan yang laris punya Mbak Mus depan SD Muhammdiyah Jogodayoh sudah buka sejak jam 5 dan selalu habis jam 6. Kalau kesiangan, Arsyi hanya kebagian kuah tanpa sayur. Karena mayoritas sayur pedas. Hanya ada satu menu sayur ga pedas, sayur bayam dan sop saja yang berganti setiap hari.
Jarak tempuh harian yang tercatat di aplikasi handphone rata-rata 6 km dan mencapai 7 km kalau lagi nyelimur Kochi. Bawa Kochi jalan-jalan, bahkan pergi ke arisan paguyuban wali murid pakai sepeda. Sampai-sampai tiap ada arisan berikutnya, wali murid gantian bertanya, siap menjemput supaya aku nggak bersepeda jauh sambil menggendong bayi.
Tinggal di bangunan RA, mengantar Kochi ke TPA, baru pergi ke sekolah dijalani dengan doa. Berharap setiap ikhtiar membawa perubahan kebaikan. Sampai RA lagi sudah kehabisan tenaga karena jam kerja hingga sore. Seringnya setelah shalat maghrib dan Kochi selesai makan, langsung tidur. Nggak ada kekuatan lagi untuk makan malam. Bangun tengah malam, mencuci, dan mengerjakan administrasi sekolah sampai pagi.
Perjalanan setahun di Jogja itu masya Allah. Sekarang Allah memberi kemudahan dan pertolongan lagi, alhamdulillah. Apa pun yang dilewati hari ini harus tetap ucapkan alhamdulillah demi mencapai kedudukan sebagai manusia yang memiliki kesabaran yang indah.
Kesabaran yang indah merupakan pesan yang kudapatkan semalam. Ketika hati penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan, tiba-tiba seseorang memberi nasihat yang mengena. Dalam Surat Al Maarij ayat 5, “Maka bersabarlah engkau (Muhammad) dengan kesabaran yang baik.”
Jalan perjuangan masih terbentang. Harus lebih berhati-hati lagi biar Allah tetap rida. Jika perisai dosa telah turun, rahmat Allah akan menghampiri tanpa penghalang. Itulah sebaik-baik penantian. Mendapatkan rahmat Allah tanpa perisai dosa hingga nanti diizinkan bertemu Allah dalam keadaan menyempurnakan tanggung jawab sebaik-baiknya.
Ingin sekali nanti mendengar Allah berkata, “Dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang ada, engkau telah memenuhi tanggung jawabmu dengan sebaik-baiknya dan beristirahatlah di Surga tanpa rasa khawatir serta takut lagi. Tidak akan ada kejahatan yang menyakitimu. Semua tugasmu telah selesai.”
Seperti halnya bangunan kota yang terus berkembang, aku pun harus terus belajar dan bertumbuh. Berhati-hati lagi supaya bisa mengambil keputusan dan jalan hidup yang baik. Biar kesabaran selama hidup tidak sia-sia. Aku harus tetap bersabar dengan kesabaran yang indah sesederhana mengurangi mengeluh dan tidak berputus asa terhadap rahmat Allah.
Bismillah. Tetap semangat berjuang, Ibu. Allah Maha Menolong. Allah Maha Pengampun. Allah Mahabaik.
Catatan Sofa, 31 Oktober 2023


Tinggalkan komentar