Tanggung Jawab Negara dan Orang Tua

“Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.”

Pasal 34 ayat 1

Zaman SD, hafal UUD 45 adalah kewajiban. Guru sering membuat pertanyaan tentang UUD 45 untuk tebak-tebakan jelang pulang sekolah atau hafalan pagi sebelum memulai pembelajaran. Pasal 34 ayat 1 menurutku dulu adalah salah satu pasal yang mudah dihafal selain pasal 29.

Saat membaca berita, Kepala Badan Gizi Nasional mengatakan 60 persen anak-anak tidak pernah minum susu, bukan miris lagi. Tapi, mau bagaimana lagi? Kenyataannya hari-hari ini keadaan terasa sulit.

Orang tua memiliki kewajiban untuk memberikan makanan bergizi, keamanan, memastikan tumbuh-kembangnya sesuai, dan memberikan pendidikan yang baik. Namun, tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan hal-hal baik bagi anak-anak mereka.

Akar masalahnya tentu lagi-lagi kembali ke perekonomian keluarga. Jika keluarga belum sejahtera, rasanya mustahil memberikan semua hal baik untuk anak-anak. Negara memang memiliki kewajiban untuk memberikan pekerjaan dan penghidupan layak untuk rakyat. Namun, bagaimana cara rakyat menuntut kewajiban tersebut?

Bukankah cara termudah dan tercepat adalah berdaya secara individu, lalu menolong kerabat terdekat. Jika berkahnya berlebih, bisa menolong lebih banyak orang lagi. Jika menuntut negara memberikan penghidupan yang layak, mau sampai kapan menunggu?

Setiap manusia dengan kemampuan terbatas sekalipun, memiliki daya juangnya masing-masing. Ada yang gigih memperjuangkan masa depan, apa pun tantangannya. Ada pula yang putus asa dan memilih menyerah dengan keadaan yang ada. Alih-alih menunggu, lebih baik berjuang sekeras-kerasnya hingga bisa membalikkan keadaan sulit yang menghimpit.

Tentang susu, aku teringat pengalaman tahun lalu ketika berkunjung ke Makassar. Aku memanfaatkan waktu setelah wawancara narasumber untuk pergi ke Pantai Losari. Aku sampai di Pantai Losari sore hari saat gerimis turun.

Di sana, aku bertemu dengan seorang anak penjual tisu berumur 12 tahun. Ia menawarkan tisu dagangannya, kubeli saja karena kasihan. Ia berjualan tanpa payung. Bajunya basah tapi senyumnya saat menawarkan dagangan tak pernah lepas.

“Saya bantu foto, Kak,” tawarnya usai aku bayar tisunya.

“Boleh,” jawabku dengan senang hati.

Ia lihai memberikan saran di mana aku harus berdiri dan mengarahkan kamera. Hasilnya bagus. Tampaknya ia sudah biasa membantu para pengunjung untuk memotret.

“Saya kasih 100 ribu ya, tapi kembali 50 ribu.”

“Terima kasih, Kak. Saya tidak punya kembalian, Kak. Cuma 10 ribu ini,” katanya lagi.

“Ya sudah, kamu belanjakan saja supaya dapat kembalian,” usulku kemudian.

“Saya pergi ke seberang sana ya, Kak. Di sana ada minimarket,” pamitnya sembari berlari menerobos gerimis.

Beberapa saat kutunggu, ia datang lagi dengan senyum mengembang.

“Kak, terima kasih. Ini kembalian uangnya,” ucapnya sembari mengangsurkan uang lima puluh ribu.

“Kamu beli apa?”

“Beli sosis dan susu untuk adik, Kak.”

Di pundaknya, tersampir susu sachet kental manis.

“Adikmu usia berapa?”

“Dua tahun, Kak. Ini susunya dia.”

“Ya sudah, uang 50 ribunya buat Mama, ya. Kamu sudah jajan. Ini uang harus benar-benar kasih ke Mama.”

“Terima kasih, Kak,” ucapnya riang dengan senyum lebar.

“Pulang dulu, kasih uang ke Mama. Kamu juga sudah basah bajunya. Makasih ya sudah bantu motret,” ujarku sebelum kami berpisah.

Dia sudah putus sekolah sejak kelas 3 SD. Hari-harinya ia habiskan dengan menjual tisu di sepanjang Pantai Losari. Aku sudah lupa namanya. Tapi, sorot matanya, baju lusuhnya yang basah, dan ia yang berjalan tanpa alas kaki, tak akan pernah kulupakan. Ada banyak anak-anak sepertinya di jalanan. Anak-anak yang masih memiliki atau bahkan tak memiliki orang tua, berjuang di tengah kerasnya hidup untuk bertahan dari hari ke hari.

Jika sudah demikian, tak ada gunanya lagi, aku memberi tahu, susu kental manis itu bukanlah susu, melainkan gula. Anak-anak dan ibu yang memiliki pendidikan rendah, tidak memiliki pengetahuan tersebut. Kalau pun sudah tahu, susu yang bisa mereka beli dengan uang harian mereka hanyalah susu kental manis, bukan susu murni.

Penghasilan harian yang mereka peroleh hanya cukup untuk bertahan hari itu. Esok, mereka akan berusaha lagi.

Di tengah perekonomian yang tak menentu ini, aku yang belajar menjadi orang tua juga sedang berjuang. Aku harus memastikan Kochi mendapatkan pendidikan dan makanan cukup dengan penghasilan yang tak pasti. Membesarkan anak-anak itu memang sebuah tanggung jawab besar dan semoga setiap orang tua diberikan kekuatan untuk memenuhi tanggung jawabnya dengan baik.

Jakarta, 26 Januari 2025

19.45

Note: Semangat, semuanya

Komentar

Tinggalkan komentar