Jejak Perjuangan Perempuan Tangguh untuk Pendidikan dan Kesehatan dari Bumi Sawerigading

Nila kecil yang tumbuh dari lingkungan Texas sudah bertumbuh menjadi Prof. Nila. Berawal dari dua petak bangunan rumah di Jalan Veteran, Nila dan Munir membangun mimpi ingin mendirikan perguruan tinggi berkualitas di Tana Luwu. Stikes Mega Buana Palopo mendapatkan izin penyelenggaraan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional pada 22 Juni 2009 dengan nomor Surat Keputusan SK Nomor 92/D/O/2009.
“Kita tidak boleh main-main kalau berniat membangun Stikes.
Kita harus mempersiapkan semuanya dengan baik,” pesan Nila kepada
suaminya.
“Ya, insya Allah, kita persiapkan dengan baik,” jawab Munir dengan
tatapan yakin.
Tahun Ajaran 2009/2010 merupakan tahun pertama Stikes Mega Buana Palopo mulai beroperasional. Pada angkatan pertama, Stikes Mega Buana Palopo menerima 33 mahasiswa S-1 Keperawatan, 30 mahasiswa D-4 Bidan Pendidik, dan 7 mahasiswa S-1 Kesehatan Masyarakat. Dengan hanya jumlah 70 mahasiswa tersebut, Nila mulai memimpin Stikes Mega Buana Palopo sebagai Ketua Stikes sekaligus dosen.
Empat tahun kemudian, Munir berusaha mewujudkan harapan istrinya yang ingin mendirikan rumah sakit.
“La, kalau kita buat rumah sakit bagaimana? Kita ubah saja hotel menjadi rumah sakit,” sambung Munir ketika keduanya berada di kantor Ketua Stikes Mega Buana Palopo.
“Bagaimana dananya? Kita butuh biaya besar untuk mendirikan rumah sakit?”
“Insya Allah kita bisa. Kita atur dana sebaik mungkin dari tabungan yang ada. Nanti, saya bicara dengan saudara saya dulu. Saya tanya sekali lagi, siap jaki uruski kalau hotel diubah jadi rumah sakit?”
“Insya Allah, bismillah.”

Pasang-surut kehidupan dijalani Nila dalam memperjuangkan pendidikan dan kesehatan di Tana Luwu. Dengan dukungan orang tua, suami, doa, dan usaha pantang menyerah, Nila terus mengobarkan semangat untuk memperjuangkan cita-citanya. Inilah kisah Prof. Nila si Anak Lavender yang menginspirasi dan mengubah kehidupan ribuan orang. Selamat membaca!


Tinggalkan komentar