Bedah Buku SDK Mendayung dari Hulu: Belajar Mengambil Hikmah dari Doa yang Tertunda

Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka (Istimewa)

Bedah Buku SDK Mendayung dari Hulu: Belajar Mengambil Hikmah dari Doa yang Tertunda

SDK membagikan falsafah hidup dari ajaran bapaknya. Ia senantiasa ingat pesan orang tuanya untuk menjaga amanah dan tidak mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri.

OlehTim News

Diperbarui 02 Juli 2025, 16:00 WIB

0 KomentarShare

Copy Link

Batalkan

Jadi intinya…

  • Bedah buku SDK diadakan sebagai penghormatan kepada Gubernur Sulawesi Barat.
  • SDK menekankan pentingnya menjaga amanah dan integritas pribadi.
  • Kekalahan bukanlah akhir, namun kesempatan untuk bangkit dan berkembang.

Liputan6.com, Jakarta – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat menggelar acara Bedah Buku “SDK Mendayung dari Hulu” sebagai bentuk penghormatan terhadap Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.

Hadir sebagai narasumber yaitu Kadis DKPD Provinsi Sulbar Khaeruddin Anas, Wakil Ketua I DPRD Provinsi Sulawesi Barat Sitti Suraidah Suhardi, penulis biografi Sofa Nurdiyanti, dan Tim Ahli Gubernur Provinsi Sulawesi Barat Hajrul Malik, sebagai moderator acara.

Dalam sambutannya, SDK membagikan falsafah hidup dari ajaran ayahnya. Ia senantiasa ingat pesan orang tuanya untuk menjaga amanah dan tidak mengakui karya orang lain sebagai karyanya sendiri.

“Kalau hari ini saya berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi misi saya sebagai gubernur itu adalah komitmen saya terhadap rakyat Sulawesi Barat. Jadi, ada banyak pelajaran yang ada di buku ini,” ucap SDK.

Bedah buku ini akan menjadi momentum penting untuk memperkuat budaya literasi lokal. Masyarakat diajak mengenal lebih dekat kisah yang dibentuk oleh kerja keras, pengorbanan, dan spiritualitas.

“Saya pernah kalah, orang tidak selamanya menang, ya. Hidup ini, ada naiknya, ada turunnya, ya. Tapi, di mana pun Anda berada, prinsipnya adalah kalau Anda jatuh, cepatlah bangun. Jangan tunggu orang lain untuk menolong membangunkan Anda. Itulah yang saya lakukan setelah saya kalah, saya bangkit kembali,” sambung SDK.

SDK memberi hikmah atas kekalahannya pada Pilkada 2017 ketika ia mencalonkan diri sebagai gubernur.

“Kalau saya tidak kalah, mungkin saya tidak punya perusahaan PT Mitra Agro Manakarra. Tapi karena saya kalah, akhirnya saya memiliki satu perusahaan. Kalau saya tidak kalah mungkin saya tidak pernah duduk di Senayan, duduk di Badan Anggaran Komisi IV dan tidak punya jaringan sekarang,” jelas SDK.

2 dari 2 halaman


Bangkit Kembali

Setelah kekalahannya pada Pilkada 2017, ia bangkit kembali. Menurut SDK, kekalahan bukanlah aib. Kekalahan bukan berarti berakhir segalanya. Kalah hanya berhenti sejenak untuk merefleksikan. Ia bahkan mencapai banyak hal setelah kekalahannya. Ia kemudian bertarung kembali pada Pilkada 2024 dan berhasil menjadi pemenang Pilgub 2024.

Terakhir, SDK memberikan pesan agar setiap orang tidak hanya mencapai kesuksesan dirinya saja, tapi memperhatikan kesuksesan setiap anak-anaknya.

“Banyak orang sukses, tapi anaknya terbengkalai, narkoba. Alhamdulillah, saya merasa diri saya sukses karena saya melampaui dari kehidupan keluarga saya dan anak-anak saya juga bisa saya jaga. Walaupun anak itu punya rezeki sendiri, tapi ada koridor yang kita bisa buatkan dan anak saya juga tidak harus begini begitu.”

SDK kemudian mengisahkan tentang anak ketiganya, dokter Sitti Sulfia Suhardi. Pada saat itu, dokter Sulfia memiliki kesempatan menjadi anggota DPR RI menggantikan Jendral Salim S. Mengga yang mengundurkan diri sebagai anggota DPR RI. SDK menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada dokter Sulfia. Pada saat konferensi pers, dokter Sulfia ternyata memilih untuk tidak menerima posisi sebagai anggota DPR RI.

Artikel ini telah ditayangkan di Liputan6.com: https://www.liputan6.com/news/read/6094574/bedah-buku-sdk-mendayung-dari-hulu-belajar-mengambil-hikmah-dari-doa-yang-tertunda?page=2